DaerahekbisEkonomiHukumkesehatanNasionalpendidikanperistiwapolitikTNI/Polri

Kopontren Indonesia: Gerakan Sejuta Santri Tanam Sorgum Dorong Ketahanan Pangan

Depok-,citra Indonesia.id

Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren ID) Indonesia berkomitmen dalam mewujudkan kemandirian santri dan pesantren melalui penguatan sektor pangan, pemberdayaan ekonomi, pelatihan kerja, dan pemanfaatan teknologi digital. Sebagai langkah nyata
dalam ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi pesantren melalui program peluncuran Gerakan Sejuta Santri Menanam Sorgum.

Hal itu diungkapkan Sekretaris Jenderal (Sekjend) Koperasi Pondok Pesantren Indonesia Bobby Arvian James, S.Kom. Menurutnya, kemandirian pesantren harus dibangun berdasarkan
kedaulatan pangan berbasis potensi lokal dan transformasi digital yang berkelanjutan. Pihaknya mengajak santri memproduksi apa yang mereka konsumsi, sekaligus membuka peluang hilirisasi dan ekspor produk pangan halal serta thoyiba.

“Kopontren ID hadir sebagai wadah strategis untuk memperkuat ekonomi dan ketahanan pangan berbasis pesantren. Di saat yang sama, kami juga menyiapkan program Pesantren Prakerja guna membekali para santri dengan keterampilan berstandar internasional agar mampu bersaing dan bekerja di luar negeri, didukung oleh digitalisasi pesantren yang modern,” kata seusai
Deklarasi Gerakan Sejuta Santri Menanam Sorgum dilakukan di Pondok Pesantren Al Hikam, Beji, Depok, Selasa (20/8/2026).

Pengembangan sorgum menjadi salah satu program yang mendapat perhatian. Komoditas ini akan dikembangkan melalui rangkaian kegiatan mulai dari budidaya, penanganan pascapanen, hingga pengolahan menjadi produk bernilai tambah, seperti beras sorgum, tepung, dan makanan olahan.

Pada tahap awal, program tersebut melibatkan jejaring 10 wilayah pesantren sebagai percontohan. Melalui skema ini, pesantren diharapkan tidak hanya menjadi konsumen bahan pangan, tetapi juga terlibat dalam proses produksi dan pengembangan usaha.
“Pengembangan sorgum dapat membuka peluang usaha baru, termasuk pengolahan produk pangan untuk memenuhi kebutuhan pasar yang lebih luas.Tapi, pengembangan komoditas tersebut membutuhkan lebih dari sekadar kegiatan penanaman,”terangnya.

Menurutnya, ketersediaan benih, pendampingan budidaya, penguasaan teknologi pascapanen, serta kepastian pembeli menjadi faktor penting agar usaha dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Jika rantai produksi dapat dibangun dengan baik, kegiatan pertanian berbasis pesantren berpeluang Kopontren ID membangun ekosistem melibatkan santri, petani, koperasi, dan pelaku usaha di lingkungan sekitar.

Ketahanan Pangan via Sorgum Sampai Pesantren Pra Kerja Go Internasional

program Pesantren Prakerja yang diarahkan untuk meningkatkan keterampilan santri agar dapat bersaing di pasar kerja, termasuk peluang kerja di luar negeri. Pelatihan kerja tersebut dirancang untuk meningkatkan kapasitas dan keahlian peserta sesuai kebutuhan dunia usaha.
“Pelaksanaannya perlu ditopang kurikulum yang relevan, sertifikasi kompetensi, penguasaan bahasa, serta pemahaman mengenai prosedur penempatan tenaga kerja yang berlaku di negara tujuan,”jelasnya.

Pendidikan pesantren diharapkan dapat memberikan bekal tambahan bagi santri yang ingin memasuki dunia kerja tanpa meninggalkan latar belakang pendidikan keagamaan mereka.

Penerapan Sistem Pesantren Digital (Sitrendi). Sistem ini ditujukan untuk membantu pengelolaan administrasi, keuangan, jejaring bisnis koperasi, dan kegiatan pembelajaran.
Digitalisasi dinilai dapat menjadi instrumen untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan lembaga. Meski demikian, pemanfaatannya membutuhkan kesiapan pengelola, infrastruktur, dan pendampingan agar teknologi benar-benar menjawab kebutuhan pesantren.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut juga membahas mengenai pengolahan dan hilirisasi sorgum, peluang energi baru dan terbarukan, peluang ekspor, serta pengembangan sistem digital pesantren.
Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dan penyerahan simbolis bibit sorgum kepada perwakilan pesantren untuk ditanam di berbagai daerah di Indonesia. Acara ditutup dengan doa oleh KH. Hilmi Assidiqi Al-Aroky dari Pesantren Al-Hikam.

Nampak hadir Mantan Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail sebagai salah satu peneliti dari BRIN, Sekda Kota Depok,
Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama RI Basnang Said, perwakilan Menteri Koperasi, perwakilan Menteri Pertanian RI, Idy Muzayyad dari Baznas RI, pimpinan Pondok Pesantren, para santri dari sejumlah Pesantren.

Red Citra Indonesia

126 Views