“PDIP Peringati HUT ke-53 dan Gelar Rakernas, Tegaskan Konsistensi Ideologi dan Isu Global”
Jakarta, citra Indonesia.id,-
10 Januari 2026 – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menggelar perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-53 bersamaan dengan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Beach City International Stadium, Ancol, Jakarta, pada Sabtu (10/1). Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh ribuan kader serta sejumlah tamu undangan, dan menegaskan kembali komitmen partai terhadap nilai-nilai ideologis serta isu-isu kemanusiaan global.
Achmad Riza Al-Habsyi, politisi PDIP Kota Depok yang pernah menjabat di DPRD Provinsi Jawa Barat, dalam refleksinya menyoroti konsistensi panjang partai. “Dalam segala kiprahnya, kelebihan dan kekurangannya, sepanjang sejarah Republik ini, partai PDI Perjuangan-lah yang konsisten menjaga Pancasila, UUD ‘45, dan menjaga bumi pertiwi. Konsisten tertawa dan menangis bersama rakyat,” ujarnya.
Riza Al-Habsyi menekankan bahwa komitmen tersebut bukan sekadar retorika, melainkan diwujudkan dalam aksi nyata yang memuliakan kemanusiaan. “Satyam eva jayate (kebenaran pasti menang) bukan sekadar slogan, namun pesan moral,” tambahnya. Ia memberi contoh konkret berupa penanganan bencana yang dilakukan oleh organisasi sayap partai, Baguna, dan semangat gotong royong kader di berbagai daerah seperti Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Jawa Barat, dan wilayah lainnya yang terdampak bencana.
Sementara itu, pengamat politik Rocky Gerung yang hadir dalam acara tersebut memberikan tanggapan mendalam terhadap pidato Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Rocky mengungkapkan keunikan dan kedalaman pesan yang disampaikan.
“Ada hal yang unik tadi, bahwa Anda pasti menunggu Ibu Megawati ucapkan pidato politik atau isu politik, tapi beliau menganggap ada yang lebih penting itu soal kemanusiaan, soal lingkungan, soal persahabatan,” kata Rocky.
Rocky menjelaskan bahwa pidato Megawati dimulai dengan membahas politik global, khususnya soal Venezuela dan prinsip kedaulatan. “Beliau mulai dengan program global politics soal Venezuela, soal hak untuk mempertahankan kemerdekaan, soal terlarangnya satu negara adikuasa mengambil alih, mencaplok pemimpin dari sebuah negara yang berdaulat,” imbuhnya. Menurut Rocky, pernyataan itu mengingatkan pada dalil dasar politik luar negeri Indonesia yang menghargai hak setiap bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri dan menolak permusuhan berbasis kebencian.
Isu kedua yang disoroti Rocky adalah perubahan iklim. Ia menilai cara Megawati membahas hal tersebut menunjukkan keinginan Indonesia untuk menjadi pelopor dalam perlindungan lingkungan hidup.
Namun, poin yang menurut Rocky paling penting adalah penekanan pada human solidarity atau solidaritas kemanusiaan. “Saya senang bahwa Ibu Megawati akhirnya tahu bahwa ada tiga isu utama yang harus dirawat oleh dunia generasi baru, yaitu menghasilkan keadaan dunia yang tanpa kekerasan,” ucapnya. Rocky menilai pesan-pesan ini relevan dengan tantangan global saat ini dan menempatkan PDIP dalam diskursus yang lebih luas daripada sekadar politik domestik.
Perayaan HUT ke-53 dan Rakernas PDIP tidak hanya menjadi momen evaluasi organisasi, tetapi juga penegasan posisi ideologis dan visi kemanusiaan partai. Melalui pernyataan kader seperti Achmad Riza Al-Habsyi dan tanggapan dari pengamat seperti Rocky Gerung, terlihat upaya PDIP untuk menonjolkan dua narasi, konsistensi historis dalam menjaga dasar negara dan kepedulian pada rakyat, serta kesadaran untuk terlibat dalam percakapan global tentang perdamaian, kedaulatan, dan solidaritas kemanusiaan.
Acara ini menutup dengan kesan bahwa di usia yang ke-53, PDIP berusaha merawat nilai-nilai lama sambil menjawab tantangan zaman dengan isu-isu yang dianggap fundamental bagi masa depan bangsa dan dunia.
(Deynni)
