Tak Kalah Bahaya Corona Virus penyakit ini muncul sebulan terakhir

jakarta Citra Indonesia.id.Jakarta – Akhir-akhir ini di sejumlah daerah muncul wabah penyakit akibat proses alamiah, seperti pergantian cuaca maupun akibat kelalaian manusia. Di antaranya, pertama, bakteri Antraks (Bacillus anthracis) yang membuat hewan ternak mati mendadak yang juga berpotensi menular ke manusia, dan tak kalah bahayanya dari virus Corona.

Kedua, bakteri Leptospirosis dari urin tikus yang cukup berbahaya bagi manusia. Ketiga, virus Distemper yang menyerang kucing.

Keempat, Demam Berdarah (DBD) yang diakibatkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypt. Dan yang kelima, tentu saja Coronavirus yang menurut data penularannya dari hewan liar dan dapat membuat tewas manusia baik hanya melalui kontak mata maupun kontak fisik antarmanusia dan hingga saat ini belum ditemukan obatnya.

Berikut rangkum dari berbagai sumber.

1. Antraks

Berasal dari Bakteri Bacillus anthracis yang menjadi penyebab penyakit antraks. Bakteri ini dapat bertahan hidup puluhan tahun di tanah. Bakteri antraks juga bisa tahan terhadap kondisi atau lingkungan panas, serta bahan kimia atau desinfektan.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita menyampaikan, soal bakteri penyebab Antraks yang tengah marak terjadi di Gunung Kidul, Yogyakarta, Jawa Tengah.

“Bakteri Bacillus anthracis ini bisa tahan lama di lingkungan. Jadi, kewaspadaan masyarakat tetap diperlukan (terhadap kejadian antraks),” ucap Diarmita sebagaimana keterangan resmi

Bacillus anthracis, bakteri penyebab antraks
Bacillus anthracis, bakteri penyebab antraks (Wikipedia)
Mengutip laman Kementerian Pertanian, menjelaskan gejala antraks yang harus diwaspadai, sebagai berikut:

Kematian mendadak dan adanya perdarahan di lubang-lubang kumlah (lubang hidung, lubang anus, pori pori kulit).
Ternak mengalami kesulitan bernapas, demam tinggi, gemetar, berjalan sempoyongan, kondisi lemah, ambruk dan kematian secara cepat.
Pada kuda, gejala biasanya kronis dan menyebabkan kebengkakan pada tenggorokan.
Pada manusia bisa terjadi tukak atau luka pada kulit dan kematian mendadak.
Adanya gejala antraks di atas, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Diarmita mengharapkan kepada warga untuk melaporkan bila ada hewan ternak mati mendadak.

“Laporkan juga kalau ada ternak yang mati mendadak. Masyarakat juga tidak membeli hewan yang berasal dari daerah tertular atau tanpa keterangan kesehatan hewan yang resmi,” sarannya.

Bakteri antraks yang menginfeksi manusia biasanya lewat luka terbuka, para pekerja penyeleksi bulu domba atau orang yang memakan daging hewan ternak yang positif antraks.
2. Leptospirosis
Tikus – hewan yang berpotensi menularkan Leptospirosis.
Tikus – hewan yang berpotensi menularkan Leptospirosis.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten mengimbau warga mewaspadai penyakit leptospirosis selama musim penghujan. Banyaknya genangan air mempermudah penularan penyakit yang disebarkan melalui urin atau darah hewan seperti tikus yang terinfeksi bakteri leptospira.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Klaten, Anggit Budiarto, mengatakan kasus penyakit leptospirosis bisa berujung pada kematian jika terlambat ditangani. Pada 2019, Dinkes Klaten mencatat ada 41 kasus leptospirosis dengan jumlah korban meninggal dunia sebanyak enam orang.

Sementara, sepanjang 2018 tercatat ada 85 kasus leptospirosis dengan 12 orang meninggal dunia. “Untuk 2020, sampai pekan ketiga Januari belum ada kasus. Mudah-mudahan tidak ada yang sampai meninggal dunia,” kata Anggit saat berbincang Kamis (30/1/2020).

Selain itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta menerima laporan tiga kasus pasien terjangkit penyakit leptospirosis pada awal tahun 2020 dengan satu pasien meninggal dunia.

“Satu orang yang meninggal dunia ditangani Puskesmas Depok 2, sedangkan kondisi dua pasien lain sudah berangsur membaik,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman Novita Krisnaeni di Sleman, Sabtu, dikutip dari Antara.

Mengutip dari Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Klaten, menjelaskan bagaimana penularan, gejala, dan imbauannya, sebagai berikut:

Leptosirosis bisa ada pada musim apapun, Selagi tikus masih ada dan di sana ada air, pasti sangat memungkinkan.
Bakteri penyebab leptospirosis bisa memasuki tubuh melalui luka terbuka pada kulit saat kontak dengan air. Gejala penyakit itu diantaranya demam, nyeri otot, meriang, hingga mata pedas.
Bagi petani yang ingin bertani di sawah diimbau agar sebisa mungkin kulit tidak kontak langsung dengan air di sawah seperti mengenakan sepatu bot paparnya INF Dd Citra Indonesia on-line.id

TAP TO HIDE
2. Leptospirosis
https://m.liputan6.com/regional/read/4168587/tak-kalah-bahaya-dari-coronavirus-penyakit-ini-muncul-sebulan-terakhir?utm_source=Mobile&utm_medium

copylink&utm_campaign=copylink
Copy Link
Tag Terkait
Wabah Penyakit
2020
Virus dan

24 Views